Minimal Order

3 November 2009 pukul 22:28 | Ditulis dalam Tak Berkategori | 6 Komentar

angkutMemang terkadang kita terjebak, berapa qty minimal yang bisa kita sampaikan kepada konsumen agar dengan jumlah itu kita tidak dibuat rugi, juga konsumen tetap merasa puas. Karena kadang kita menemukan konsumen yang ‘keukeuh’ butuh nyetaknya sedikit, sedangkan pihak percetakan tetap harus mengeluarkan biaya untuk beberapa komponen, misalnya pembuatan film, plate, ongkos potong, juga biaya cetak (tinta).

Untuk memberikan keputusan tepat, memang biasanya agak susah menemukan titik temu. Disini konsumen sebaiknya/harus memahami dan memaklumi serta mau mengerti. Untuk mengatasi kasus ini, terkadang saya suka memberikan gambaran yang umum seperti: Jika seorang pedagang kue bala-bala (bakwan) mendapat order untuk membuat lima buah bala-bala, kemungkinan besar dia akan menolak dan cenderung memilih membuatkan bala-bala lebih banyak, 20 bala-bala misalnya. Pertimbangannya apa sehingga dia berani menolak order itu? Sederhana saja, lima buah dan 20 buah bala-bala, tetap saja dia harus belanja: terigu minimal 1/4 kg, minyak sayur minimal 1/4 kg, sayur kol min 1/4kg, dan sebagainya. Rasanya toko bahan makanan juga bakal nolak kalo ada yang belanja terigu cukup lima sendok makan atau minyak sayur juga lima sendok makan dan selembar daun kol.

Tentu saja pada dasarnya untuk membuat  bala-bala sebanyak lima buah itu bukan hambatan, tapi imbasnya pada harga satuannya. Bisa saja per buah bala-bala itu harganya sampe Rp.5.000,- tidak mustahil khan? Kecuali si pemesannya mau membeli dengan harga itu, he3x🙂. Karena si pembuat bala-bala itu juga tidak mau rugi, jelas.

Nah, kembali ke percetakan. Kasus itu serupa banget. Misalnya ada konsumen yang hanya butuh 100 buah kartunama  dengan kualitas cetak mesin besar. Itu bukan tidak mungkin dikerjakan, ingat, imbasnya ke harga. Untuk produk seukuran kartu nama, paling membutuhkan selembar plano (misalnya plano bisa dibagi 10 lembar folio, masing-masing folio terdiri dari 10 kartunama, khan cukup). Misalnya saja kertas, film dan plate (dengan menghiraukan biaya cetak) habis Rp.150ribu. Maka 150.000/100 = Rp.1.500,- per buah kartu nama. Lucu khan?😉

Jadi, jelas bisa dilihat, sepertinya pihak percetakan akan malas untuk mencetak selembar bahan. Iya kalau ada stok tinta, kalau tidak khan pasti harus buka segel baru😉. Belum lagi mengganti tinta khan tidak seperti card ridge mesin printer biasa, membutuhkan waktu cukup lama mengganti tinta itu.

Sebagai kesimpulan, lihatlah dahulu ukuran produknya, jumlah warna dll. Lalu hitung total biaya produksi, lalu dibagi qty. Bila harga satuan belum ‘wajar’ atau terlalu mahal bisa tambahkan lagi qty-nya sehingga ketemu harga  ‘masuk akal’. Kalo sudah masuk akal, ya berarti jumlah (qty) itu yang harus diinformasikan pada konsumen. Bila konsumen tetep ngeyel, sewajarnya kita menolak dengan cara baik-baik. Kita bisa tawarkan alternatif lain bila konsumen tetap mau dengan jumlah sedikit, misalnya diprint dengan kualitas printer inkjet dll.Ingat, kita harus memperhitungkan biaya lain yang otomatis mengikutinya seperti ongkos kirim atau jarak tempuh apabila kita harus mengantarnya langsung, belum lagi waktu juga harus diperhitungkan yang bisa saja ‘menyita’ kesibukan kita.

 

[aliya]

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya punya satu pertanyaan mengenai minimal order. Bagaimana misalnya ada permintaan cetak undangan ukuran terbuka A4 2 sisi dengan jumlah 500 buah (umumnya quantity undangan nikah kisaran jumlahnya 500 – 1000). Apakah jumlah tersebut memenuhi syarat minimal order untuk cetak offset? Trus kalau naik mesin GTO 46 apakah sebaiknya halaman depan belakang dibikin jadi satu film ukuran A3 atau dibikin 2 film A4 saja. Makasih atas infonya.

    • (mohon maaf sebelumnya bila jawaban saya tidak mengena)
      Bila total ukuran untuk dua muka (depan dan belakang) bisa masuk ke ukuran A3 (dan masih ada lebih setiap sisinya), saya rasa untuk meminimalkan biaya cetak,film dan plat, sudah saja buat satu film, jadi naik cetak dua. Karena kalau dua film artinya harus membuat dua plat, dan dua kali bayar cetak (bila total cetak kurang dari 2500pcs, biaya cetak = banyak plat dikali biaya cetak per plat).
      Sekali lagi masalah minimal order kuncinya saya rasa ada pada masing-masing. Kalkulasilah semua biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan mencetak sebanyak itu bila perlu termasuk transport. Setelah diketahui lalu bagi dengan qty. Jika nilainya sudah ketemu, pakailah harga itu sebagai patokan, artinya harga jual per satuan jangan sama dengan nilai tadi, apalagi di bawahnya (dijamin rugi)🙂. Maka sebelum diinfokan pada konsumen, kali lah dengan angka misalnya 20%, lalu hasilnya tambahkan dengan nilai tadi. Saya rasa tiap orang berbeda-beda cara menghitungnya, dan itu akan otomatis kok bisa dijalankan, karena tujuan akhir dari sebuah bisnis adalah mendapatkan keuntungan.
      Maaf sekali lagi bila jawabannya tidak pas, punteeeen pisan. Maklum saya juga baru sebatas teori, inipun banyak ngarangnya, he3x. Makasih Kang, salam buat keluarga🙂

  2. hehehe..
    Biasanya analogi saya suka di gunakan pada kendaraan. Jika kendaraan menggunakan bensin 10 liter sekali jalan, maka muatan dikit (oplag) akan membengkak per satuannya, otomatis jika muatan banyak maka satuannya lebih murah dengan bahan bakar (biaya produksi) sama…

    • sip, setuju, he3x nuhun yah😉

  3. Untuk membuat id card per 1 buahnya berapa…????? saya berencana mau nyetak sekitar 250 buah….??? mohon di konfirmasi dengan cepat…

  4. ..satu buah kena biaya minimum, bisa 7ribu satu nya..
    kalo qty 250pcs boleh lah 4.500,- sajah😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: